kopi

Omah Kopi: Omah Penyambung Persaudaraan

  “pak, hari ini buka?” “buka mbak, spti biasa bakda magrib..” Setelah memastikan warung kopi Pak Sas buka via WA, jam 7 malam saya memacu motor dari Kentungan ke arah Jetis. Sambil menahan tubuh yang kedinginan karena demam (bukan kena Covid, cuy) saya susuri Jalan Kaliurang yang semrawut di akhir pekan. Sabtu malam, waktunya mereka merayakan kebebasan dari rutinitas pekerjaan. …

Lanjut Baca
perempuan tembakau tradisi

Susur Tak Tinular

Rajangan tembakau yang diletakkan pada tampah bambu, siap dikonsumsi sebagai susur.

Usai buka puasa, Mbah Cipto (60 th) mengambil selembar daun sirih. Diolesi daun berbentuk jantung itu dengan sedikit injet (kapur) lalu ditambah secuil gambir. Daun sirih itu dilipat, dimasukkan ke mulut, kemudian dikunyah perlahan. Bibirnya mulai memerah karena liur yang bercampur dengan gambir. Dubang, alias idu (liur) berwarna abang (merah) begitulah liur disebut. Tak mau kehilangan kenikmatan dubang, diambilnya sejumput tembakau dari kantong plastik. Tembakau itu diusap-usapkan pada deretan gigi depannya yang masih utuh, meski warnanya tidak putih lagi. “Mbakone rasane semriwing, kudu susuran ben dubange ora ilang”, celetuk Mbah Cipto melukiskan kenikmatannya.

Mbah Juminten, burung gendong di Pasar Beringharjo tengah menikmati susurnya sambil menunggu orang yang mau memakai jasanya.

Praktek konsumsi daun sirih yang dicampur dengan kapur, gambir, pinang (nyuruh, nginang) yang disempurnakan dengan menghisap rajangan tembakau (nyusur) itu senantiasa menemani keseharian para perempuan yang tak lagi muda. Kebiasaan tersebut biasanya dilakukan saat istirahat di sela-sela bekerja dan seusai makan. Mbah Juminten (70 th) buruh gendong di Pasar Beringharjo, setelah mengangkut barang atau di sela-sela aktivitasnya, ia menghalau lelah, jemu, kadangkala rasa laparnya dengan nyusur.
Ibarat rokok pada praktek menikmati tembakau oleh kaum laki-laki, kebiasaan nyusur di Jawa (terutama masa ini) barangkali lebih banyak dilakukan oleh kaum perempuan. Namun, bisa jadi pembagian ini tidak berlaku di tempat lain di Nusantara.

Pada masa lalu, perempuan mulai nginang setelah menikah. Mbah Dharmo, memulainya pada usia 15 tahun, sesaat sesudah melangsungkan pernikahannya. Sementara itu, Mbah Tinem mulai disuruh nginang oleh simboknya untuk mengusir kantuk kala menyusui anaknya. Nginang juga dipercaya memperkuat gigi. Gigi mereka masih kuat hingga usia 60-an tahun.

Mbah Dharmo sedang menyiapkan tembakau susurnya untuk konsumen. Mbah Dharmo berjualan tembakau di Pasar Kalasan. Seminggu sekali, ia ke Pasar Beringharjo untuk kulakan.
Mbah Tinem dan suaminya. Keduanya adalah petani sekaligus konsumen tembakau sejak belia. Jika Mbah Tinem lebih suka nyusur, suaminya menikmati tembakau dengan meraciknya menjadi rokok tingwe (linting dhewe). 

Kebiasaan konsumsi sirih-pinang sudah dikenal sejak abad ke-15. Konsumsi tersebut dipercaya berguna untuk menenangkan otak dan sistem syaraf sentral, serta menjadi bagian dari adat penyambutan tamu. Seabad kemudian, tembakau masuk dan menjadi bahan penting sekaligus pelengkap dalam konsumsi sirih-pinang. Bahan-bahan tersebut, selain dikonsumsi langsung oleh manusia, juga digunakan sebagai pelengkap sesaji, makanan bagi yang gaib di sana. Dua abad berikutnya, produk lain hadir dari kreativitas mencampur tembakau dengan cengkeh yang kelak dikenal sebagai Kretek, produk ekonomi tembakau yang konon telah menyelematkan nasib cengkeh di mana kala itu nyaris tenggelam akibat monopoli Belanda.

Sebagai tanaman yang bukan asli nusantara, tembakau telah diadaptasi para leluhur negeri ini. Wujud adaptasi itu di antaranya melalui tradisi nyusur. Dengan berkembangnya budaya tanam dan konsumsi tembakau, muncul pula sistem pengetahuan yang menyertainya, seperti istilah-istilah pengolahan hingga muncul dalam lagu-lagu dolanan, misalnya syair “podheng mbako enak mbako sedeng, deng”. Hal itu menunjukkan kuatnya tembakau dalam kehidupan sehari-hari.

Kini, tradisi yang menjadi bagian dari sistem pengetahuan tentang tembakau itu praktek pewarisannya mulai terputus. Anak-anak perempuan dari para penyusur enggan mengikuti kebiasaan tersebut. Alasannya beragam: kalau ingin gigi kuat, sudah ada pasta gigi; kalau tidak mau mengantuk, toh ada permen; juga soal pergaulan, tak ada kawan yang mengkonsumsi, hingga alasan kesehatan bahwa tembakau sebagai biang segala penyakit yang mempercepat kematian. Perlahan tapi pasti, kisah keintiman perempuan Jawa dengan tembakau ini tengah memasuki bab terakhirnya, barangkali juga pengetahuan tentang tembakau perlahan mulai menghilang, seiring redupnya konsumsi tembakau itu sendiri. Bisa jadi, Mbah Cipto, Mbah Tinem, Mbah Juminten, dan mbah-mbah lainnya adalah generasi terakhir penikmat susur di tlatah ini.

Lanjut Baca