kopi

Omah Kopi: Omah Penyambung Persaudaraan

 

“pak, hari ini buka?”

“buka mbak, spti biasa bakda magrib..”

Setelah memastikan warung kopi Pak Sas buka via WA, jam 7 malam saya memacu motor dari Kentungan ke arah Jetis. Sambil menahan tubuh yang kedinginan karena demam (bukan kena Covid, cuy) saya susuri Jalan Kaliurang yang semrawut di akhir pekan. Sabtu malam, waktunya mereka merayakan kebebasan dari rutinitas pekerjaan. Perayaan yang pada akhirnya menjadi rutinitasnya lainnya. Ah, manusia, selalu terjebak dalam rutinitas, lagi dan lagi. Haha, saya malah nyinyir. Maklum, sebagai jomblo Mbak-mbak independen saya tak punya jadwal mesti malem mingguan. Malas rasanya keluar dan terjebak di antara bising knalpot kendaraan.

Tapi malam ini lain, kebutuhan jasmani dan rohani saya sama-sama menjerit. Sejak semalam, badan saya nggregesi dan kepala sakit. Stress, tumpukan tugas akhir semester belum tersentuh karena kondisi tubuh yang tak kunjung sembuh. Asmara Asrama sepi, saya butuh teman bicara agar tak terlalu penat, lagipula perut harus segera diisi. Rasanya dengan kondisi  yang mulai membaik, saya kuat untuk sampai warung kopi. Segelas teh jahe panas racikan beliau dan sepiring bakmi goreng jawa dari warung seberang terbayang sepanjang jalan.

Singkat kata, sampai di sana, sepiring bakmi dengan topping kulit dan irisan cabe rawit saya lahap dengan gembira. Segelas teh jahe panas terasa kemepyar, seketika saya menyeruputnya. Wedang teh jahe hanyalah salah satu dari menu Omah Kopi Omah S’dulur. Tentu saja, sajian utamanya adalah kopi. Namun hari ini, mualnya perut saya sepertinya tak kuasa menerima menu utama.

Dengan menyandang nama Omah Kopi tentunya kita membayangkan berbagai jenis kopi dengan aneka teknik seduh bisa kita jumpai di sana. Memang, sebelum pandemi, warung kopi yang berada di utara tugu Jogja ini menyediakan belasan varian kopi nusantara, mulai dari kopi Gayo, Pontianak, Temanggung, hingga Wamena. Yang menjadi signature-nya adalah Kopi Durian. Saat ramai-ramainya, pengunjungnya pun membludak hingga harus menggelar tikar di trotoar. Sayangnya, saat kondisi pandemi, apalagi PPKM berjilid-jilid seperti sekarang ini, memaksa Pak Sasongko untuk mengurangi sediaan kopinya, agar kopi tidak terlalu lama disimpan menanti pelanggan, hingga tak sedap lagi jika disajikan. Saat ini, hanya dua varian yang bisa disuguhkan. Semoga pandemi segera berakhir, Omah Kopi ramai lagi dan kita bisa menyeruput aneka kopi kembali.

Lihat varian dan banyaknya kopi sebelum pandemi. Foto milik: https://www.ardiankusuma.com/2016/07/omah-kopi-omah-sdulur.html
Toples-toples kosong menanti diisi biji-biji kopi kembali

Perkenalan saya dengan Omah Kopi Omah S’dulur sudah cukup lama, sejak tahun 2011 yang lalu, beberapa bulan setelah rumah kopi ini dibuka pada tahun 2010. Saat itu, saya bersama teman-teman membutuhkan ruang temu untuk membahas ruang baca yang kami buka di pengungsian Merapi. Nasib baik, Pak Sas dengan senang hati mempersilahkan kami menggunakan salah satu ruangannya, bahkan bersedia alamat rumahnya dipakai untuk menerima kiriman buku-buku dari para donatur. Pada tahun itu pula, saya harus meninggalkan Jogja. Jadi, pertemuan kami tak begitu lama. Kehadiran saya ke warung kopi ini kembali di pertengahan 2021 ini. Syukurlah, Pak Sas masih mengingat baik siapa saya.

Lalu, apa yang membuat para pelanggan selalu kembali lagi ke sini, termasuk saya? Ruangannya, kursinya, mejanya biasa saja, bukan dipenuhi sofa empuk ataupun coffee table kekinian. Interiornya hanya dipermanis dengan beberapa lukisan dan barang-barang lawasan, serta sedikit permainan cahaya temaram. Warung kopinya cukup sempit, di dalam ruangan hanya ada 3 meja kecil ditambah 2 lagi di depan. Bukan peralatan kopi canggih ataupun interior keren yang ditawarkan.

Pak Sas adalah teman bercerita yang hangat. Sehangat kopi-kopi tubruk yang ia sajikan. Kopi tubruk? Ya, omah kopi Pak Sas barangkali salah satu yang cukup berani, hanya menawarkan teknik seduh kopi yang paling tradisional, tubruk, di tengah trend coffeeshop yang menjamur di Jogja. Di sini, tak terlihat ada mesin espresso ataupun portafilter.  Di sudut ruangan hanya terlihat  mesin grinder sederhana, kompor gas kecil, dan teko untuk merebus air. Pak Sas yakin dengan tagline “kopi toebroek oentoek rakjat djelata”, tak perlu neko-neko mengubah dan menambah ini itu agar mampu bersaing dengan cafe-cafe kekinian yang sangat menonjolkan gaya.  Ia memiliki pelanggan loyalnya tersendiri, termasuk saya.

Pak Sas sang Pendengar, the brotherhood maker

Selain karena kopi racikan Pak Sas cukup enak, bagi saya (dan sangat personal, tidak perlu diperdebatkan) kopi yang enak tak perlu dibuat dengan teknik yang sophististicated apalagi dibumbui cerita-cerita sok filosofis yang ditempel di dinding-dinding, tapi baristanya kaku bukan main (sangat SOP banget) karena kopi sejatinya adalah pengantar bercerita. Mungkin Pram akan bilang, “Hidup Kopi sesungguhnya sangat sederhana, yang hebat-hebat hanya tafsirnya saja”. Kopi adalah medium percakapan antara dua orang, tiga orang, lebih, bahkan percakapan seseorang dengan dirinya sendiri. Bagi saya (lagi-lagi bagi saya ya!) Kopi yang enak, tentu saja ditentukan kualitasnya, tapi bukan melulu tentang itu ataupun mau diseduh jadi espresso, americano, atau di-brew dengan teknik V-60, french press, dsb. Namun, dengan siapa kita ngopi 🙂

gelas kosong menandakan berapa cangkir pengantar percakapan yang ia suguhkan tiap malam

Yang membuat enak dan membuat orang-orang kembali ke sini adalah keramahan bukan basa-basi yang ditawarkan. Pak Sasongko tak perlu menulis nama kita pada gelas-gelas plastik, lalu memanggil nama kita keras-keras agar orang sekedai mendengar. Ia mengingat dan saling menghubungkan cerita antar pelanggan, tak jarang ia memperkenalkan tamunya satu sama lain. Terkadang, Pak Sas baru menutup warungnya lepas tengah malam, jika masih ada pelanggan yang belum ingin beranjak pulang. Sebab itu, warung kopi ini layak menyandang  nama Omah S’dulur (rumah per-saudara-an).

Pelanggan yang ditemani dirinya sendiri

Hebatnya pria itu adalah mampu mengingat detail setiap cerita, sambatan, maupun curhatan pelanggan (termasuk saya yang hobi curhat ke beliau :D). Omah ini adalah ruang hangat yang membuat setiap obrolan cair, ruang bagi orang-orang yang datang, terutama yang sendirian. Omah Kopi Omah S’dulur menawarkan sesuatu yang jarang dipunya oleh cafe tertrendi manapun di Jogja, yaitu: teman cerita.

 

Aku dan sudut favoritku

 

 

 

 

 

 

 

6 Komentar

  1. Fr. Dhany, OCD

    “Jomlo” dan “asmara”, dua kata yang dicoret, tapi punya makna yang istimewa..
    Semoga, tetap menulis yach…

    1. gimana maknanya itu? ?

  2. Fr. Dhany, OCD

    “Jomlo” dan “asmara”, dua kata yang dicoret, tapi punya makna yang istimewa..
    Semoga, tetap menulis dan mengeksploitasi ide-ide cemerlang dan kreatif

    1. selama Fr. mau membaca saya akan merasa semangat menulis kok ?

  3. Apik pe, jadi pingin ke sana, ketemu Pak Sas. Tiba2 aku keinget guru Seni Rupa kita pas SMA, karena bbrpa kali curcol ke beliau. Haha

    1. mana ada curcol, diniati curhat emang sama si Bapak mah..hahaha

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.